Setiap awal tahun ajaran baru di Perguruan Tinggi (PT) dimulai, wajah-wajah baru bermunculan, mereka adalah yang beruntung karena telah berhasil lolos dari rintangan seleksi masuk, baik yang melalui SPMB (untuk perguruan tinggi negeri) maupun melalui test masuk lokal yang diselenggarakan oleh masing-masing PTS dengan menyisihkan banyak pesaing yang jumlahnya ratusan ribu orang.
Lolos seleksi masuk memang bukan sesuatu yang mudah karena dibutuhkan kesiapan yang prima, bukan saja dari segi mental dan pikiran serta biaya tetapi juga kesiapan fisik. Test masuk perguruan tinggi, terutama SPMB, dipercaya sebagai tolok ukur kualitas calon mahasiswa Indonesia. Walaupun demikian, terlepas dari sangat tingginya kualitas test masuk (SPMB maupun non SPMB dalam mengukur kualitas akademik calon mahasiwa), pada kenyataan begitu banyak mahasiswa baru yang kurang berhasil ketika menjalani tahun pertama di perguruan tinggi. Padahal, secara umum, materi perkuliahan tahun pertama di PT biasanya adalah materi yang telah dipelajari para mahasiswa ketika mereka duduk di bangku SMU, bahkan beberapa sudah dipelajari sejak masih di SD.
Di tahun pertama perkuliahan biasanya ditawarkan mata kuliah dasar umum (MDU) seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, atau untuk beberapa fakultas eksakta ditambah dengan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.
Berhasil menyelesaikan studi di perguruan tinggi dalam waktu yang relative singkat merupakan impian seluruh mahasiswa, keluarga dan orang tuanya. Namun untuk dapat mencapai sukses yang diinginkan itu bukanlah hal yang mudah, karena cara belajar di perguruang tinggi lebih bersifat mandiri dibandingkan cara belajar di tingkat pendidikan sebelumnya (SMU/SMK) yang lebih banyak dibimbing secara langsung oleh para guru. Oleh karena itu jika para mahasiswa tidak dapat menyesuaikan diri dalam belajar di perguruan tinggi, maka kemungkinan besar mahasiswa yang bersangkutan akan gagal mencapai gelar kesarjaan sebagaimana yang di cita-citakan, dan kalaupun berhasil mencapai gelar kesarjaan pasti waktu studi yang dipergunakan untuk meraih gelar keserjanaan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari waktu normal yang seharusnya.
Untuk mengurangi resiko kegagalan mahasiswa ditahun-tahun pertama masa perkuliahan dan melancarkan studi selama di Perguruan Tinggi calon mahasiswa baru hendaknya banyak mencari informasi sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi ke suatu Perguruan Tinggi tertentu. Informasi yang sangat diperlukan diantaranya mengenai jurusan yang akan diambil, perguruan tinggi yang dipilih serta informasi mengenai cara dan sistem pembelajaran di perguruan tinggi sampai ke hal yang lebih jauh lagi yaitu mengenai lingkungan dan kehidupan kampus.
Perbedaan Sistem Pembelajaran di PT vs SMU
Sistem pembelajaran di PT sangat berbeda dengan di SMU. Di seluruh PT di tanah air digunakan sistem Satuan Kredit Semester (S.K.S) yang juga berlaku secara internasional. Mudah dan sulitnya suatu mata kuliah dapat dilihat dari besar kecilnya angka s.k.s. Suatu mata kuliah biasanya diberi bobot angka, contohnya Mesin-Mesin Listrik 3 sks Teori/Praktek(T/P). Artinya, mata kuliah ini memiliki bobot 3 s.k.s yang untuk menguasai materi perkuliahan diperlukan 2 sks (setara dengan 2×50 menit) tatap muka perkuliahan ditambah 2 jam mengerjakan tugas terstruktur dan 1 sks kegiatan praktikum (setara dengan 60 menit praktikum).
Dalam sistem SKS, mahasiswa dapat mengambil jumlah mata kuliah sesuai dengan kemampuannya. Besarnya beban sks atau jumlah mata kuliah yang boleh diambil di semester berikutnya sangat ditentukan oleh prestasi akademik pada semester sebelumnya. Oleh karena itu, di akhir semester, mahasiswa harus menghitung sendiri Indeks Prestasinya (IP atau IPK) yang kemudian dijadikan patokan dalam mengambil banyaknya jumlah sks di semester berikutnya yang harus diisi ke dalam Kartu Rencana Studi (KRS). Sebelum pengisian, setiap mahasiswa diwajibkan berkonsultasi untuk mendapat persetujuan dari Dosen Wali, yaitu seorang dosen yang ditunjuk untuk berperan sebagai wali pribadi si mahasiswa.
Perbedaan Masa Belajar di PT vs di SMU
Banyak mahasiswa baru yang tidak memahami bahwa waktu yang tersedia untuk mempelajari satu mata kuliah di PT sangat berbeda dengan waktu yang tersedia untuk mempelajari satu mata pelajaran di SMU. Di SMU, siswa akan mempelajari mata pelajaran yang sama sejak dari kelas I sampai kelas III. Di PT, satu mata kuliah hanya akan dipelajari dalam waktu maksimum 14 kali perkuliahan, ditambah dengan 2 kali ujian, yaitu Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) sehingga totalnya 16 kali pertemuan.Setelah ujian akhir selesai, maka seumur studinya mahasiswa tidak akan pernah mengulangi mata kuliah tersebut kecuali ia memutuskan untuk mengulanginya. Itu pun harus dilakukan pada semester lain ketika mata kuliah tersebut ditawarkan kembali. Ketidaktahuan mengenai pendeknya masa studi mengakibatkan banyak mahasiswa baru yang mengalami shock ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa masa belajar mata kuliah harus berakhir dan bahwa tidak sebagaimana di SMU, tidak ada semester kedua untuk memperbaiki nilai.Untuk dapat dikatakan berhasil, seorang mahasiswa harus memiliki IPK 2,00 atau pada semua mata kuliah yang diambilnya memiliki huruf mutu C. Menurut ketentuan, jika IPK-nya di akhir semester II kurang dari 2,00, maka seorang mahasiswa dapat dikenakan sanksi Drop Out (DO) dan dinyatakan tidak layak secara akademik untuk melanjutkan studinya. Di SMU, seorang siswa yang naik kelas hanya perlu melakukan daftar ulang (herregistrasi) tanpa harus menentukan pelajaran apa yang akan diambilnya karena mata pelajaran di kelas berikutnya akan sama dengan mata pelajaran yang diikutinya tahun yang lalu.
Metode Pengajaran di PT vs di SMU
Metode pengajaran di PT juga sangat berbeda dengan metode pengajaran di SMU. Di PT seorang dosen akan nampak ‘ngebut’ untuk menyelesaikan pelajaran, mengingat bahwa waktu yang tersedia sangat pendek. Dosen hanya akan menjelaskan point-point pentingnya saja. Tugas mahasiswa adalah melengkapinya dengan mencari informasi dari berbagai sumber di PT juga berlaku berbagai cara KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi).
Salah satu metodenya adalah dengan metode pembelajaran PBL (Problem-Based Learning) yang lebih menuntut mahasiswa untuk kreatif dalam menyelesaikan problem yang diberikan oleh dosen. Dalam metode PBL, peran dosen berubah dari seorang orator di depan kelas menjadi seorang fasilitator dan tutor. Dalam metode PBL, perkuliahan menjadi sangat singkat, sementara mahasiswa dituntut untuk membentuk kelompok belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan termasuk mencari literatur pendukung.
Buku Ajar di PT vs di SMU
Kalau di SMU buku ajar hampir selalu tersedia, bahkan selalu menjadi kewajiban bagi siswa untuk membelinya, maka buku ajar di PT jarang tersedia dan tidak ada paksaan dari dosen agar mahasiswa memilikinya. Perpustakaan PT pun biasanya tidak memiliki kepustakaan secara lengkap. Kalaupun ada, biasanya jumlahnya sangat terbatas. Di PT, buku teks yang dipakai biasanya adalah buku pegangan dosennya sendiri, sehingga diperlukan keahlian khusus mahasiswa untuk dapat diizinkan memfotokopi buku teks tersebut.
Buku-buku teks di PT umumnya adalah dalam bahasa asing terutama bahasa inggris. Bagi mereka yang memiliki kemampuan bahasa inggris yang kurang, hal ini sangat menghambat proses pembelajaran. Ada memang beberapa mahasiswa yang kreatif untuk memperjualbelikan catatan kuliah (yang lengkap dan bagus) bekas mahasiswa angkatan sebelumnya. Tetapi hal ini juga kurang banyak membantu terutama jika dosennya merupakan dosen yang baik, yaitu dosen yang selalu memperkini (meng-update) materi perkuliahannya.
Perbedaan Kemampuan Mengajar Dosen vs Guru
Seorang Guru biasanya adalah lulusan IKIP atau PT bidang pendidikan. Mereka tentu saja mendapatkan pendidikan tentang hal ihwal menjadi pendidik dan pengajar. Mereka memahami psikologi dan pedagogi pendidikan. Sementara itu, seorang Dosen (kecuali untuk dosen IKIP) diangkat lebih berdasarkan kepada kemampuannya dalam bidang ilmu tertentu. Setelah menjadi dosen, barulah mereka diberi pelatihan tentang bagaimana cara mengajar. Itu pun belum semua PT menerapkan kebijakan serupa. Akibatnya, mahasiswa baru sudah terbiasa selama sekolah di SD, SMP, dan SMU (selama 12 tahun) ‘disuapi’ oleh gurunya, mendapat kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan cara dosen mengajar.
Studi di PT Memerlukan Perencanaan yang Matang
Kuliah di PT merupakan masa studi yang terdiri dari sekuen-sekuen waktu yang dinamakan dengan semester. Studi di PT juga tidak perlu juara di setiap semester. IPK tinggi bukan jaminan akan suksesnya seorang sarjana di masyarakat menurut para pengguna lulusan (lapangan kerja). Selain IPK, kemampuan bekerjasama, penguasaan teknologi informasi, kemampuan bahasa dan berorganisasi, serta kematangan pribadi, merupakan persyaratan yang diharapkan pengguna dari seorang sarjana.
Tentunya, semua persyaratan tersebut hanya akan dimiliki oleh seorang sarjana yang selama belajar di PT bukan merupakan mahasiswa ‘kutu buku’ yang hanya mengejar angka IPK tinggi saja. Kompetensi tambahan tersebut hanya akan diperoleh jika selama menjadi mahasiswa, ia aktif berorganisasi atau terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
Kenyataan bahwa pengguna lulusan selain menyaratkan IPK yang cukup juga kompetensi lain agar tidak diartikan bahwa seorang mahasiswa harus menomorduakan kuliah dan menomorsatukan ekstrakurikuler. Jangan sampai yang fardhu menjadi sunnah, sementara yang sunnah menjadi fardhu. Yang sering terjadi justru para mahasiswa baru terkena euforia kebebasan setelah lepas dari segala keketatan peraturan sebagai siswa SMU, antara lain perkuliahan yang tidak terikat jam kelas sebagaimana di SMU (bahkan kalau bolos pun tidak terkena sanksi) dan berpakaian pun tidak lagi seragam. Mahasiswa baru juga banyak digiring oleh seniornya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, yang sering justru menyita waktu-waktu belajar mereka. Banyak mahasiswa baru yang sering terlena dengan euforia ini sehingga tahu-tahu mereka harus berhadapan dengan UAS.